Connect with us

Dunia

Trump Ancam Putus dengan China, Ekonomi AS Bahaya?

BeritaNusantara.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengisyaratkan kemunduran hubungan dengan China. Sebelumnya hubungan kedua negara memanas belakangan ini karena penyebaran COVID-19.

Ia bahkan mengaku tak tertarik berbicara dengan Presiden Xi Jinping. Dan, mengancam memutus hubungan dengan ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Dalam sebuah wawancara dengan FOX Business Network, yang disiarkan di AS pada Kamis (14/3/2020), Trump mengaku kecewa. Karena China gagal menahan pandemi dan berimplikasi pada perjanjian damai dagang yang dibuat Januari 2020.

“Mereka seharusnya tidak membiarkan ini terjadi,” kata Trump dikutip Reuters.

“Saya membuat kesepakatan perdagangan yang hebat dan sekarang saya bisa katakan, saya tak merasakan hal yang sama. Tinta sudah mengering dan wabah (COVID-19) datang. Rasanya jadi tak sama buat saya.”

Ia pun melanjutkan lagi dengan mengatakan, dirinya saat ini, tak mau berbicara dengan Xi Jinping. Bahkan ia berujar, bisa melakukan banyak hal untuk “menghukum” China, termasuk memutus seluruh hubungan yang telah dijalin.

“Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa memutus seluruh hubungan (dengan China),” tegasnya selaku menyebut bakal ada keuntungan yang bisa didapat AS.

Meski demikian, pengamat dari Center for Strategic and International Studies di Washington, Scott Kennedy, menilai pernyataan Trump terlanjur berani dan berbahaya. Ini bisa merusak ekonomi AS sendiri.

“Menghindari komunikasi bukanlah strategi yang efektif untuk menyelesaikan krisis yang membutuhkan kerja sama global. Dan memutus hubungan ekonomi akan sangat merusak ekonomi Amerika, “katanya sebagaimana dikutip Reuters.

Seorang pengamat China yang bekerja dengan Trump, Michael Pillsbury, mengatakan ia yakin sebenarnya Trump khawatir pada kesepakatan Fase I. Di mana China belum bisa merealisasikan pembelian produk AS.

Dia mengatakan bahwa menurut angka yang dikutip oleh China Daily, pembelian produk A.S. China dalam empat bulan pertama tahun ini adalah 3% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Ini bukan kabar baik untuk mengurangi defisit perdagangan atau membantu perekonomian kita pulih dari krisis coronavirus,” katanya.

Dalam perjanjian Fase 1 Perdagangan, Beijing berjanji membeli US$ 200 miliar barang AS. Ini akan dibalas Washington dengan menurunkan tarif secara bertahap selama dua tahun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Dunia