Connect with us

Politik

Pontjo Sutowo : Kesibukan Kontestasi Politik Cendenrung Mengabaikan Persoalan Pembangunan Fundamental yang Berjangka Panjang

Jakarta, Kamis 21 Maret 2019, Bertempat di Gedung Bentara Budaya Jakarta, Palmerah-Jakarta Pusat pada Rabu (20/3), Aliansi Kebangsaan bekerjasama dengan Forum Rektor Indonesia dan Litbang Harian Kompas secara resmi membuka kegiatan diskusi kebangsaan yang mengangkat tema besar “Mengukuhkan Kebangsaan  yang Berperadaban : Menuju Cita-cita Nasional dengan Paradigma Pancasila”.
Pembangunan Nasional adalah gerak berkelanjutan dari peningkatan mutu budaya dan peradaban dalam rangka mewujudkan cita-cita Nasional berlandaskan (kerangka keyakinan, pengetahuan dan tindakan) Pancasila.
Laju pembangunan dalam rangka transformasi peradaban saat ini sekarang menghadapi tantangan serius dari penderasan arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang membawa perubahan-perubahan tata nilai, tata kelola, dan tatanan material dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.
Tantangan-tantangan tersebut kian diperparah dengan kesibukan kontestasi politik jangka pendek (Pilpres 2019), yang cenderung mengabaikan persoalan pembangunan fundamental yang berjangka panjang.
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini diantaranya adalah, Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu selaku Ketua FRI, Yudi Latif P.hD, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, Msc, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, SE. MS, Mayjen (Purn) I Dewa Putu Rai, serta Prof. Dr Emil Salim selaku Keynote Speaker.

Membuka diskusi tersebut, Ketua Umum Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo dalam sambutannya menguraikan, “ Kita sama-sama menyadari bahwa pemilihan presiden hanyalah sarana, bukan tujuan pembangunan. Tujuan pembangunan Nasional sendiri adalah mewujudkan perikehidupan kenegaraan daan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kesadaran ini perlu kita segarkan kembali karena banyak di anatar anak bangsa ini yang terjebak dalam siklus politik lima tahunan ini dengan menempatkan Pemilu seolah menjadi tujuan kita berbangsa dan bernegara,” ungkap Pontjo.
“Dalam diskusi ini, diingatkan bahwa sejarah sekali lagi memanggil peran intelektual dan pers perjuangan untuk mengambil peran konkrit dengan membentuk agenda setting dalam mengarahkan peta jalan pembangunan yang dikehendaki.”
“Untuk mencapai tujuan nasional tersebut, pembangunan nasional hendaknya merupakan gerak kemajuan secara terencana, terpadu secara menyeluruh dan berkesinambungan. Energi politik  yang terlalu banyak terkuras untuk memenangkan kontestasi politik, kerap membuat agenda pembangunan lebih banyak merespon hal-hal mendesak berjangka pendek dan bersifat tambal sulam, dengan mengabaikan hal-hal fundamental yang berjangka panjang,” sambung Pontjo.
Sementara itu, Mantan Ketua Dewan Pertimbangan Kepresidenan era Soesilo Bambang Yudhoyono, Prof. Dr. Emil Salim yang turut hadir dalam kesempatan tersebut dalam pemaparannya menyamapaikan, “Kita ini kan masih dalam proses pembangunan bangsa dan terus berjalan, jadi kita harus mencari karakter kita sendiri di tengah-tengah pergaulan bangsa ini. Di dalam proses pencarian karakter bangsa itu menurut saya, kita mengembangkan Pancasila sebagai paradigma pembangunan.”
Pancasila itu merupakan teropong cara kita melihat permasalahan dunia, dia adalah paradigm,” tutup mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan IV dan Kabinet Pembangunan V1983-1993).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Politik