Thursday|08-01-2026

Indonesia Kembali Berdiri di Atas Kaki Sendiri: Prabowo Resmikan Swasembada Pangan dalam Waktu Satu Tahun

  • Share

Karawang(BN)– Indonesia kembali mencatat sejarah. Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan bahwa swasembada pangan nasional telah tercapai, menandai kebangkitan kembali kemandirian pangan yang terakhir dirasakan bangsa ini lebih dari empat dekade lalu.
Pengumuman bersejarah itu disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri Panen Raya Nasional di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

“Dengan mengucap bismillah, pada hari ini, 7 Januari 2026, saya Presiden Republik Indonesia menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah kembali mencapai swasembada pangan,” ujar Prabowo di hadapan ribuan petani dan jajaran pemerintah

.
Mengulang Kejayaan Era 1980-an
Indonesia pernah mencapai puncak kemandirian pangan pada 1984, ketika produksi beras nasional mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan cadangan beras mencapai 2 juta ton. Prestasi itu bahkan mengantarkan Presiden Soeharto menerima penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma dan menjadikan Indonesia negara donor beras bagi Afrika.
Kini, setelah lebih dari 40 tahun, prestasi serupa kembali diraih.

Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, produksi beras nasional sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi nasional.

Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa capaian tersebut melampaui target awal pemerintahannya.

“Saya menargetkan swasembada dalam empat tahun. Namun berkat kerja keras para petani dan seluruh pemangku kepentingan, satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.

Dampak Global: Harga Beras Dunia Anjlok Keberhasilan Indonesia menghentikan impor beras membawa dampak signifikan di pasar global. Permintaan dunia menurun tajam, menyebabkan harga beras internasional merosot dari sekitar USD 660 per metrik ton menjadi USD 368 per metrik ton, atau turun lebih dari 44 persen.

Langkah ini mempertegas posisi Indonesia bukan hanya sebagai negara mandiri pangan, tetapi juga sebagai penentu keseimbangan pasar beras dunia.

Strategi Produksi Terintegrasi
Swasembada pangan dicapai melalui strategi produksi yang masif dan terintegrasi. Pemerintah memperkuat sektor intensifikasi melalui penggunaan benih unggul, pompanisasi, optimalisasi lahan, modernisasi irigasi, serta peremajaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Sementara dari sisi ekstensifikasi, pemerintah mempercepat program cetak sawah baru di berbagai daerah.
Di sektor pupuk, terbitnya Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Permentan Nomor 15 Tahun 2025 menjadi terobosan penting. Regulasi tersebut memangkas 145 aturan tumpang tindih dan menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi hingga 20 persen, sehingga petani lebih mudah mengakses sarana produksi.

Pemerintah juga memperkuat kebijakan penyerapan gabah. Perum BULOG ditugaskan membeli gabah petani langsung di lapangan dengan skema any quality seharga Rp6.500 per kilogram.

Kebijakan ini mendorong pengadaan beras terbesar sepanjang sejarah dan meningkatkan cadangan beras pemerintah hingga 4,2 juta ton pada Juni 2025. Saat ini, stok berada di kisaran 3,24 juta ton, meskipun sebagian telah disalurkan untuk penanganan bencana dan stabilisasi harga.

Petani Sejahtera, Ekonomi Menguat
Keberhasilan swasembada juga tercermin dari meningkatnya kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) Desember 2025 tercatat 125,35, tertinggi sepanjang sejarah, dengan rata-rata NTP 2025 mencapai 123,26, rekor tertinggi dalam 33 tahun terakhir.

Dari sisi makroekonomi, sektor pertanian mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 10,52 persen pada triwulan I 2025, tertinggi dalam 15 tahun terakhir, sekaligus memperkuat perannya sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada pangan bukan hasil kerja satu pihak, melainkan buah dari sinergi nasional lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI–Polri, BUMN, hingga jutaan petani di seluruh Indonesia.
Dengan capaian ini, Indonesia tidak hanya kembali berdaulat secara pangan, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai bangsa yang mampu mengelola sumber daya sendiri

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *