Tutup DPS 2017/18, Pontjo Sutowo : Konsep Ketahanan Nasional Harus Terus Diperbaharui

Ado Richard Selasa | 04 Desember 2018 | 00:46 WIB
Tutup DPS 2017/18, Pontjo Sutowo : Konsep Ketahanan Nasional Harus Terus Diperbaharui
Foto: Istimewa

BeritaNusa - Bertempat di Merak Room,JCC Senayan-Jakarta Selatan, Sabtu 1 Desember 2018 kemarin, kegiatan Diskusi Panel Serial “Menggalang Ketahanan Nasional Demi Kelangsungan Hidup Bangsa” yang digelar Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti, FKPPI dan Aliansi Kebangsaan sejak April 2017 lalu resmi ditutup dan ditandai dengan pemaparan intisari DPS.

Membuka kegiatan tersebut, Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti sekaligus Ketua FKPPI dan Ketua Aliansi Kebangsaan, Bapak Pontjo Sutowo dalam sambutannya menyampaikan ungkapan terima kasih kepada 80 narasumber yang telah berpartisipasi mengisi rangkaian kegiatan DPS selama April 2017 lalu.

Pontjo juga menjelaskan target utama penyelenggaraan DPS untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) dan kewaspadaan(alertness) kolektif bangsa Indonesia terhadap seriusnya berbagai bentuk ancaman yang dihadapi bangsa ini sekaligus membangkitkan semangatnya (spirit) untuk mau dan mampu mencegah, menangkal, dan melawannya, ungkap Pontjo.

“Saya ucapkan terima kasih kepada lebih dari 80 orang narasumber dengan spektrum latar belakang, pengalaman dan kompetensi yang luas hadir memberikan masukan dan pemikiran-pemikiran terkait dengan tema DPS. Ada narasumber mantan menteri, akademisi, politisi, birokrasi pemerintahan, legislatif, TNI, Polri, Set Wantanas, Lemhannas, peneliti, dan lain-lain.”

“Kita juga telah mendapatkan pencerahan dan masukan mengenai konsep keamanan nasional yang dewasa ini sudah menuju kepada suatu konsep keamanan nasional komprehensif (Comprehensive National Security Concept).

Konsep keamanan nasional yang dewasa ini sudah menuju kepada keamanan yang komprehensif, mengharuskan kita agar dalam mewujudkan keamanan nasional tidak hanya sebatas pada urusan menjaga batas-batas territorial dan kedaulatan negara, tetapi juga harus menjamin, memenuhi dan melindungi keamanan masyarakat dan warga negara,” sambung Pontjo

Lebih jauh Pontjo juga mengatakan, “Dinamika ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dewasa telah berubah begitu cepat, mengharuskan pula kita untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap konsep, doktrin, dan kondisi ketahanan nasional kita.”

“Ada tiga ranah yang sangat menentukan kondisi ketahanan nasional. Ketiga ranah tersebut adalah: ranah mental-spriritual, ranah institusional-politikal, dan ranah material-teknologikal. Ranah pertama disebut ranah budaya, sementara itu ranah kedua serta ketiga disebut ranah peradaban,” sebut Pontjo.

“Sebagai bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila, maka ketiga ranah tersebut harus diselaraskan dengan visi Pancasila yang dimiliki. Ranah mental-spiritual (kultural) basis utamanya adalah sila pertama, kedua, dan ketiga. Ranah institusional-politikal basis utamanya sila keempat. Ranah material-tenologikal basis utamanya sila kelima. Dalam kerangka Pancasila, ketiga ranah tersebut bisa dibedakan, namun tak bisa dipisahkan,” tutup Pontjo.

Sekretaris Jenderal (Sesjen) Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Letjen TNI Doni Monardo yang juga hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut dalam pemaparannya membahas isu kepedulian lingkungan. Doni menilai kepedulian anak bangsa terhadap lingkungan masih sangat rendah. Dia berharap seluruh anak bangsa bersatu padu untuk peduli dengan lingkungan.

Selain sejumlah narasumber kegiatan DPS sejak awal, kegiatan siang itu juga dihadiri perwakilan akademisi dari berbagai universitas, diantaranya :Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta, Institut Pemerintahan Dalam Negeri,Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara,Universitas Indonesia,Universitas Pertahanan,Universitas Krisnadwipayana,Universitas Respati Indonesia, STMIK Jayakarta, STIE Jayakarta, Universitas Mercu Buana, Universitas Gunadarma, Universitas Jayakarta serta dua perwakilan sekolah tingkat atas BPK Penabur dan Saint Johns School.

Turut memeriahkan kegiatan tersebut diantaranya PagelaranTari dengan tema "Nuswantara Gugah", dan promosi makanan khas dari Papua. Menandai diakhirinya DPS Ketahanan Nasional tersebut, Dr. Bambang Pharma Setiawan selaku perwakilan tim pemapar turut membacakan sejumlah intisari dari hasil DPS tersebut yang mana hasil tersebut nantinya akan dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Indonesia Unggul Prasyarat Ketahanan Nasional”.