Fokus Perjuangkan Pendidikan Anak Jalanan, Berikut Sekilas Tentang Komunitas Jendela Dunia

Ado Richard Minggu | 02 Desember 2018 | 19:24 WIB
Fokus Perjuangkan Pendidikan Anak Jalanan, Berikut Sekilas Tentang Komunitas Jendela Dunia
Foto: Istimewa

BeritaNusa - Jakarta, Minggu 2/12/2018 – Pendidikan merupakan kunci penting tolak ukur maju tidaknya sebuah bangsa. Didasari kepedulian terhadap dunia pendidikan anak Indonesia, berangkat dari panggilan hati serta kepedulian yang sama, Szeerose bersamaa dua rekannya 30 November 2014 lalu enginisiasi sebuah komunitas Jendela Dunia yang fokus terhadap isu pendidikan anak-anak jalanan dan mereka yang kurang mampu untuk dapat pula mendapatkan pendidikan formal yang layak.

“Jadi Jendela Dunia ini merupakan komunitas yang aku dan teman-teman dirikan pada 30 November 2014 lalu yang mana memiliki visi unutk berpartisipasi untuk mencerdaskan, mensejahterahkan dan menuntaskan kemisikinan masyarakat Indonesia dengan fokus pada pendidikan anak khususnya anak-anak jalanan dan yatim piatu yang kurang mampu,”
ungkap Szeerose Co Founder Jendela Dunia saat ditemmui di kawasan Kemang-Jakarta Selatan (Sabtu 01/12) kemarin.

Lebih jauh model cantik ini juga menambahkan, misi dari Jendela Dunia diantaranya berbagai ilmu, berbagi kebahagiaandan meningkatkan wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Berdiri sejak 2014 lalu, Szeroose bersama dua rekannya memulai dengan memberi pendidikan serta beaasiswa sekolah kepada 10 anak jalanan di daerah Jakarta Selatan, dan hingga saat ini komunitas Jendela Dunia telah memiliki sebanyak 40 anak jalanan yang disekolahkan.

Disinggung jumlah relawan yang bergabung, wanita yang akrab disapa Sze ini mengatakan, saat ini Jendela Dunia telah memiliki sebanyak 25 relawan yang terdaftar. “Saat ini sih sudah ada 25 relaawaan yang terdaftar, diluar itu cukup banyak sih yang relawan lainnya yang turut mendukung berbagai kegiatan kami, seperti kegiatan belajar-mengajar yang biasa kami lakukan pada akhir pekan, lomba keterampilan, hingga pelatihan karakter,” sambung Sze.

Jumat, 30/11 kemarin, para relawan Jendela Dunia juga baru saja menggelar kegiatan nonton layar tancap film anak bersama 150 anak-anak kurang mampu di kawasan Cipete-Jakarta Selatan. Selain itu, agar anak didik tidak jenuh belajar, Jendela Dunia juga sering mengajak para anak didiknya untuk rekreasi dan menikmati hiburan seperti nonton bioskop bersama seperti yang sering dilakukan selama ini.

Szeroose juga menceritakan awal yang mendasari dirinya terpanggil untuk membantu anak-anak jalanan, dirinya menceritakan, “yang pasti sih panggilan hati, jadi dulu aku pernah bertemu dengan seorang anak jalanan usia sekitar 5-6 tahun di tengah malam, lalu aku tanya, "Ade sedang apa kok belum pulang ?" , kemudian anak tersebut menjawab ‘aku gak sekolah kak" , dari situ aku tuh aku ngerasa tersentuh dan berpikir untuk berbuat sesuatu,” tambah Sze.

Sze juga mengisahkan sejumlah tantangan yang dihadapi dirinya bersama rekan relawan lain berjuang membantu anak-anak jalanan tersebut, tak sedikit komentar miring, penolakan dari pihak orang tua, hingga izin melakukan kegiatan pada masyarakat sekitar.