Sidang Lanjutan Perkara Ijasah Palsu STT Setia, JPU Ungkap Niat Jahat Terdakwa

Ado Richard Selasa | 15 Mei 2018 | 22:52 WIB
Sidang Lanjutan Perkara Ijasah Palsu STT Setia, JPU Ungkap Niat Jahat Terdakwa
Foto: Istimewa

BeritaNusa - Jakarta, Selasa (15/5/2018) Sidang perkara Ijasah Palsu STT Setia (Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar) kembali digelar Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta Timur pada Senin (14/5/2018) kemarin.

Ahli Hukum Pidana dari Universitas Indonesia (UI), Eva Achzani Zulfa yang menjadi saksi dalam persidangan tersebut menganggap kasus ijasah palsu tersebut, pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab dan pihak terdakwa yakni Matheus Mangenteng (Rektor STT Setia) dan Ernawati Simbolon (Direktur STT Setia) tidak pantas diberi sangsi.

"Ada satu program yang baik dari pemerintah yang dilakukan oleh masyarakat yang sayangnya program tersebut tidak didukung dengan konteks perizinan. Untuk itu menurut saya, terdakwa dalam kasus ini tidak layak diberi sangsi sekalipun sangsi administratif, jadi seharusnya pemerintah yang bertanggung jawab atas kasus tersebut," ungkap Eva.

Menanggapi keterangan tersebut, pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU), Asnawi dalam sidang tersebut justru menyampaikan hal sebaliknya. Asnawi bahkan menilai pihak terdakwa memiliki niat jahat.

Menurut Asnawi, pemberian saksi administratif dilakukan jika ada niat baik dengan permintaan maaf dan memfasilitasi para korban untuk mendapatkan haknya. “Saat ini mereka tidak menjalankan sanksi administratif, mereka tidak ada upaya melaporkan, mana tahu Dikti kan dikti tidak tahu,” ungkapnya.

Asnawi memaparkan bahwa terkait izin PGSD, baru pada tahun 2010 diketahui oleh Dikti. “Itupun karena adanya laporan kopertis dan masyarakat.”

"Saya melihat bahwa tidak ada niat terdakwa untuk mengurus perizinan tersebut. Apalagi niat jahatnya sudah muncul ketika tahu harus ada izin, tiba-tiba dibekukan, terdakwa sudah menyadari hal tersebut, makanya diakalin dikaitkan, itukan salah, makanya niat jahatnya disitu," tambah Asnawi.

(Lin)