Biang Kerusakan Pemuda dan Masa Depan Negeri: Radikalisme atau Sekularisme?

Reportase Indonesia Senin | 11 Juni 2018 | WIB
Biang Kerusakan Pemuda dan Masa Depan Negeri: Radikalisme atau Sekularisme?
Foto: Istimewa

BeritaNusa - Belakangan ini pemerintah  gencar mengopinikan mengenai bahaya paham radikal. Salah satu fokus perhatian pemerintah adalah mahasiswa. Sejumlah pertemuan pun diadakan pemerinfah bersama petinggi kampus untuk menyelamatkan mahasiswa dari paham yang berbau radikal. Mulai dari pertemuan dengan para petinggi perguran tinggi sampai rencana pergelaran aksi dan deklarasi di Lapangan Banteng Jakarta nanti. Artinya, menurut pemerintah, isu radikalisme ini krusial untuk segera ditangani. Namun, sayangnya label radikal ini seringkali disematkan pada mereka yang aktif menasehati penguasa dengan memberikan solusi nyata untuk permasalahan negeri.

Satu hal yang luput dari perhatian para pemerintah adalah kecermatan dalam menemukan persoalan utama negeri. Nampaknya isu penyelamatan dari bahaya paham radikal bagi para pemuda adalah salah alamat.  Bisa dilihat di lapangan bahwa pemahaman yang berkembang dan tertanam di pemuda saat ini adalah pemahaman pemahamn sekulerisme, yang sudah lama menjangkiti, dan inilah bahaya laten sebenarnya. Dia ada namun tidak disadari, bahkan dinikmati.

Sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan duniawi. Agama hanya diletakan di masjid yang sering kali sepi, bukan untuk jadi solusi permasalahan negeri.

Buah nyata dari sekulerisme adalah mulai dari pembulian anak SD karena tidak diajarkan akhlak sejak dini, sampai persekongkolan politik para petinggi negeri karena tak merasa dilihat Sang Ilahi. Bagaimana mungkin paham radikal bisa dikatakan tumbuh subur jika secara populasi saja, yang hadir aksi,  rajin diskusi, mereka  bisa dihitung jari dibandingnkan penyaksi acara nyanyi, dan acara komedi. Sampai-sampai harus lahir barisan emak emak militan, karena hilangnya pengoreksi dari kalangan pemuda-pemudi.

Nampaknya, yang diharapkan petinggi negeri adalah pemuda yang penurut,  dan tak peduli urusan negeri agar tak ada yang mengusik lagi. Jika demikian,  jelaslah sudah bahwa yang dinginkan sebenarnya bukanlah kebaikan untuk negeri. Bahwa apa-apa yang dilakukan hanyalah untuk kepentingannya sendiri,  golongannya,  dan pihak pihak yang harus dibalas hutang budi.

Oleh karena itu, mahasiswa harus tegas menentukan posisi. Kritis terhadap apa yang terjadi. Tak mudah tertipu dan menelan begitu saja berbagai opini. Menyadari bahwa permasalahan utma negeri ini adalah bukan sekedar paham radikal, namun pemahaman sekuler yang masih tertanam hingga hari ini. (yd)