Bahan Bakar Kendaraan yang Terbuat dari Plastik Cipataan Anak Bangsa

Reportase Indonesia Senin | 11 Juni 2018 | WIB
Bahan Bakar Kendaraan yang Terbuat dari Plastik Cipataan Anak Bangsa
Foto: Istimewa

BeritaNusa - Keterbatasan pendidikan tidak menghambat kita untuk berinovasi, apapun pekerjaan maupun latar pendidikan.

Namanya adalah Dimas Agus Wijanarko. Pria asal Surabaya ini bekerja di Jakarta sebagai tukang sablon. Oleh karena eksperimennya, ia mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM), seperti minyak tanah, solar, dan premium.

Keberhasilan dalam mengubah sampah menjadi BBM itu membuat Pak Dimas dipanggil pemerintah Kota Bandung untuk mengisi dalam acara workshop untuk PNS di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Di sana, ia menjelaskan caranya mendapatkan BBM yang diinginkan.

Pak Dimas mendapatkan hasil BBM yang diinginkannya melalui mesin kecil buatannya. Mesin itu dibuat dengan bahan yang mudah didapatkan, yakni besi, aluminium, keran, dan juga pipa. Proses pengolahan sampah plastik menjadi BBM dari mesin ini menggunakan metode destilasi kering.
Proses dimulai dengan memilih plastik yang kering. Kemudian, plastik itu dicacah dan dimasukkan ke dalam tabung reaktor. Tabung itu ditutup rapat. Setelahnya, tabung dipanaskan dengan suhu tinggi menggunakan kompor gas. Reaksi kimia yang terjadi dalam tabung reaktor akan menghasilkan gas yang berubah menjadi cairan bahan bakar. Proses destilasi kering ini terjadi selama 5-10 menit.

Pak Dimas mengatakan bahwa dalam kondisi ideal, setiap 1kg plastik kering mampu menghasilkan 1 liter bahan bakar berkualitas baik. Riset dari Pak Dimas ini sudah melewati uji lab Sucofindo, bahkan hasil untuk kandungan cetane dari solar yang dihasilkannya mampu melewati produk Pertamina Dex milik pertamina, yakni 63,5 berbanding 54,3.
Dikatakan oleh Pak Dimas, ide mengolah sampah menjadi bahan bakar ini diawali dari keresahannya saat mendaki gunung. Ia resah banyak sampah plastik di gunung yang nggak bisa diurai, dan ingin mengubahnya menjadi barang yang bermanfaat.

Niatnya tersebut membawanya bertemu dengan teman lamanya yang bernama Jalaludin Rumi. Ia memberi tahu cara mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar. Plastik di Indonesia terkenal mengandung banyak minyak. LDPE dan ADPE memiliki 80-85 % kandungan minyak.
Berbekal informasi dari Pak Rumi ini, dan juga membaca pelbagai artikel yang berhubungan, akhirnya pada tahun 2014, ia mampu menciptakan mesin yang dipakainya saat ini.

Ketekunannya, membawa dirinya mampu menciptakan mesin berbagai ukuran. Kemudian, ia mampu membuat komunitasnya sendiri. Nggak hanya itu, pemerintah Jepang pun sempat tertarik dan menawarkan kerja sama padanya. Ia belum menyetujuinya karena itu bukan tekadnya. Ketika menciptakan mesin ini, tekadnya adalah mengatasi masalah sampah plastik di Indonesia.

Berbekal tekadnya tersebut, ia bersama komunitasnya memulai sosialisasi ke 15 daerah di Pulau Jawa dan Bali. Ia memulainya dari 19 Mei di Jakarta, dan berakhir pada 30 Juli di Bali. (im)