Potensi Besar Wisata Halal Indonesia yang Belum Bergerak Secara Menyeluruh

Reportase Indonesia Kamis | 17 Mei 2018 | WIB
Potensi Besar Wisata Halal Indonesia yang Belum Bergerak Secara Menyeluruh
Foto: Istimewa

BeritaNusa - Berkembangnya teknologi informasi dan media sosial mendorong kaum milenial muslim melakukan perjalanan wisata. Potensi ini bisa menjadi peluang bagi para pelaku usaha dan pemerintah.

Laporan terbaru dari Mastercard-HalalTrip Muslim Millenial Travel Report 2017 (MMTR2017) menyebutkan, pasar wisatawan muslim terus mengalami pertumbuhan. Tidak, tanggung-tanggung nilai pengeluaran wisatawan tersebut secara global diperkirakan mencapai USD100 miliar pada 2025.

Dalam laporan tersebut, sepuluh destinasi yang paling banyak dikunjungi oleh muslim milenial adalah Malaysia, Indonesia, Jepang, Thailand, Australia, Singapura, Uni Emirat Arab, Inggris, Amerika Serikat dan India.

CEO CrescentRating & HalalTrip Fazal Bahardeen  mengatakan, laporan MMTR2017 memberikan wawasan terkait pasar wisatawan muslim milenial yang berkembang pesat. Kelompok tersebut, kata dia, memiliki pengaruh yang semakin besar sehingga menumbuhkan peluang dan tren secara global.

"Tidak ada keraguan bahwa semua pihak di sektor pariwisata harus lebih memperhatikan pasar wisatawan  muslim terutama kaum milenial yang dapat mendorong pengeluaran untuk tiket pesawat, hotel dan wisata," ujarnya dalam laporan yang dirilis baru-baru ini.

Dalam survei MMTR 2017 juga disebutkan,  saat ini terdapat dengan sekitar 1 miliar muslim yang berusia di bawah 30 tahun. Angka itu mewakili 60% dari populasi di negara-negara dengan mayoritas muslim, sehingga menjadi kesempatan bagi pasar perjalanan wisata.

Adapun CrescentRating memperkirakan, lebih dari 30% wisatawan muslim pada 2016 merupakan kaum milenial dengan 30% lainnya merupakan Generasi Z. Generasi ini merupakan kelompok demografis setelah kaum milenial. Dengan 121 juta pengunjung Muslim internasional pada 2016, sebanyak lebih dari 72 juta wisatawan Muslim merupakan generasi milenial ataupun Generasi Z.

Vice President, Core & Digital Products, Indonesia, Malaysia & BruneiDivision Mastercard  Aisha Islam mengatakan, nilai-nilai yang dipegang oleh kaum milenial kini beralih dari hanya ingin memiliki sebuah barang menjadi ingin mendapatkan pengalaman. Hal ini bisa dipenuhi dengan saat melakukan perjalanan.

Bagi para muslim milenial, perjalanan lebih dari sekadar liburan. Mereka sering kali menganggap perjalanan sebagai sebuah kesempatan untuk mengembangkan diri. Selain itu, juga untuk mencari pengalaman baru dan membuat hubungan yang lebih erat dengan keluarga serta teman.

"Seiring dengan pasar muslim milenial yang terus berkembang, tidak dapat dimungkiri bahwa mereka akan menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan industri perjalanan," ujarnya.

Dia menambahkan, penyedia layanan yang ingin masuk ke dalam segmen ini perlu memahami hubungan para muslim milenial tersebut dengan nilai-nilai yang dimiliki - seperti keaslian (authenticity), keterjangkauan (affordability) dan aksesibilitas (accessibility).

"Mereka (pelaku usaha) juga harus memastikan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dari keyakinan mereka," ujarnya. (ut)