BERITANUSANTARA.com
FOLLOW BERITA NUSANTARA Like Like Like Like
Kamis | 12 April 2018 | 07:42:23 WIB

TOKOH

Memahami Makna Kitab Suci itu Fiksi Versi Prof. Rocky Gerung dari UI

REDAKSI - BERITANUSANTARA.COM
Memahami Makna Kitab Suci itu Fiksi Versi Prof. Rocky Gerung dari UI
BERITANUSANTARA.com,- Profesor Rocky Gerung dari UI bicara tentang kitab suci itu fiksi dalam ranah filsafat. Ciri filsafat salah satunya berpikir secara radikal. Radikal, radic (akar), maksudnya berpikir sampai akar persoalan. Fiksi yg dipaparkan RG dan dikaitkan dengan kitab suci sbtlnya ingin menggali makna asli dari kata itu.

Lepaskan dulu kamus KBBI, karena kamus KBBI disusun untuk mewakili makna dari suatu bahasa dari pemahaman mayoritas orang Indonesia. Kata fiktif dan fiksi di KBBI terkesan sama, bermakna cerita yang tidak berdasar fakta. Padahal beda.

Yang jelek itu fiktif. Kegiatan fiktif, bermakna kegiatan bohong. Faktanya kegiatannya tidak ada. Beda arti dengan fiksi. Fiksi itu cerita. Coba dilihat dari ensiklopedia-ensiklopedia internasional deh tentang arti fiksi.

Fiksi tidak identik dengan suatu nilai, tapi kata benda, cerita. Film yang berdasarkan cerita nyata itu juga disebut fiksi kok. Fiksi dalam kitab suci itu banyak. Cerita sejarah tentang penciptaan Adam, cerita-cerita tentang Nabi itu cerita. Itu fiksi.

Gak ada urusan dengan itu nyata atau tidak nyata. Baca :Ini tanggapan warga soal polemik kata "Pakai" di kasus Ahok Elemen fiksi itu ada plot, ada setting, karakter, konflik, simbol, dan Point of View. Itu fiksi. Setiap yang ada elemen itu maka disebut fiksi. Sejarah ya fiksi juga. Gak ada urusan dia nyata atau tidak nyata. Ketika suatu sejarah diceritakan, apalagi dijadikan film misalnya, masuknya ya tetap film fiksi. Lalu di film itu biasanya disebutkan "BASED ON TRUE STORY".

Surga dan neraka di kitab suci itu juga fiksi. Cerita. Bagaimana misalnya kitab suci menceritakan surga, bahwa di dalamnya mengalir sungai-sungai, bidadari, dan semua elemen keindahan lainnya. Itu fungsinya sebagai harapan.

Harapan memunculkan motivasi. Harapan itu sifatnya bukan hanya mengandung nalar tetapi juga imajinatif. Anda bercita-cita sebagai pilot misalnya? Itu juga dibentuk oleh fiksi, oleh harapan. Ada cerita-cerita yang membentuk harapan itu. Bisa terbang bebas dan lain2 itu cerita yang imajinatif. Ingat pada prinsip bahwa cerita dipengaruhi oleh faktor sosial. Surga yang demikian apakah nyata? Siapa yang menjamin bahwa surga seperti itu?

Sebaiknya ingat kisah Imam Syafii Cerita surga yang demikian karena memang diturunkan pada masyarakat atau kultur sosial di mana aliran sungai itu sangat berharga, perhiasan utama manusia adalah pasangan yang cantik-cerita, dan sebagainya.

Apalagi dikatakan bahwa sungainya sungai susu. Kalau misalkan bagi orang yang hidup di pedalaman yang sudah terbiasa dengan sungai, aliran sungai itu sudah bukan sesuatu yang wah. Tak usah di surga, di dunia juga sudah biasa.

Terus kalau orang yang gak suka susu, sungai susu itu justru menjadi tidak menarik baginya. Orang gak doyan susu. Masa mau dipaksa. Bagi yang istrinya cantik, dan tercantik menurutnya, bidadari itu ya istrinya itu. Dan memang bidadari itu jangan disangka orang lain, ya nanti juga istrinya itulah bidadari itu.

Jadi, fiksi dan fiktif itu beda. Itu poinnya. Dan memang fiksi itu gak buruk. Cerita. Kita lebih tertarik dengan cerita. Semua orang yang bercerita pasti lebih menarik perhatian dibanding yang menerangkan suatu teori. Itu pasti. (dn)
Komentar ...
News Update