BERITANUSANTARA.com
FOLLOW BERITA NUSANTARA Like Like Like Like
Selasa | 11 Juli 2017 | 08:24:18 WIB

LIPUTAN KHUSUS

Penerapan PPDB Sistem Zonasi Untuk Siswa Terlalu Terburu-buru

REDAKSI - BERITANUSANTARA.COM
Penerapan PPDB Sistem Zonasi Untuk Siswa Terlalu Terburu-buru
BERITANUSANTARA.com,- Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem zonasi tak berjalan mulus. Pengamat pendidikan, Retro Lisyarti mengatakan, penerapan PPDB tak diimbangi dengan sosialisasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Padahal, tidak semua wilayah cocok menerapkan semua sistem tersebut. Sistem zonasi mengakibatkan sekolah tak mencapai kuota siswa yang ideal.

Sistem Zonasi ini mengakibatkan ada sekolah yang kekurangan siswa dan ada sekolah yang kelebihan kuota," kata Retno di Jakarta, Senin, 10 Juni 2017.

Retno menyampaikan, seharusnya Kemendikbud menjadikan sekolah di Jakarta sebagai sekolah percontohan PPDB sistem zonasi. Dari sekolah percontohan, Kemendikbud bisa mengevaluasi sistem zonasi berjalan baik atau tidak.

"Tipologi wilayah di Indonesia berbeda-beda. Tidak seperti Jakarta. Di Jakarta jarak setiap sekolah berdekatan dan banyak pilihan," ujarnya.

Mantan Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta ini menyebut Kemendikbud terlalu terburu-buru menerapkan sistem baru. Tak hanya itu, Kemendibud pun dinilai tak memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk dengan penerapan sistem zonasi.

"Miasalnya enggak ada aturan bagaimana menyebrang zonasi. Ada juga contoh, siswa yang tidak masuk dalam sekolah yang dekat rumahnya.  Sebenarnya nilainya dulu yang dilihat atau zonasinya dulu?" ucapnya.

Mendikbud Muhadjir Effendy sebelumnya mengatakan, sistem zonasi bisa mewujudkan pemerataan pendidikan yang berkualitas. Dengan sistem zonasi maka yang dipakai bukan lagi lokasi sekolah atas dasar pemerintahan. Tapi, seberapa jauh tempat tinggal siswa dengan sekolah. Dalam satu zonasi bisa lebih dari satu wilayah.

"Sekolah di daerah pinggiran kota Jakarta yang dekat Bekasi bisa saja tampung siswa Bekasi," kata Muhadjir.

Ia menegaskan, sekolah tidak boleh menolak siswa lantaran nilainya tak mencukupi kualifikasi. Ia meminta tiap sekolah hanya menampung 10-15 persen siswa dari luar zonasinya.

Muhadjir menilai, selain pemerataan kualitas pendidikan, sistem zonasi membuat peserta didik yang pintar bisa menyebar di sekolah-sekolah. Dengan demikian siswa pintar bisa membantu siswa yang kesulitan dalam belajar.

"Mendistribusikan anak pintar dan tidak pintar penting. Anak pintar bisa jadi anchor yang tidak pintar, sebaliknya yangg tidak pintar bisa kekatrol," ujarnya.(dn)
Komentar ...
News Update